GMNI komisariat fakultas teknik universitas Simalungun
Linktodaynews.id - Pematangsiantar
Dengan berlalunya masalah demi masalah di Universitas Simalungun yang tak semuanya disiarkan oleh Majalah Kampus di Universitas Simalungun.
Ketua Komisarat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Fakultas Teknik Universitas Simalungun (USI), Reynaldi Manik, menilai bahwa Masalah seperti Ini adalah indikator kuat bahwa kurang nya peran majalah kampus dalam mewartakan tiap tiap permasalahan didalam kampus. hal ini juga kemudian memunculkan adanya tanda tanda bahwa majalah kampus terkesan tidak berani mewartakan sesuatu yang diperkirakan mengarah kepada pihak Rektorat.
"Hari ini majalah kampus tak lagi melakukan tugasnya sebagai pewarta dikampus. dari sekian banyak hal hal yang terjadi dikampus hanya sebagian kecil saja yang diliput, dan itupun liputan mereka hanya seperti liputan ecek ecek, yang kesan nya hanya satu arah dan ada indikasi menutupi sesuatu yang terjadi dibalik insiden tersebut, salah satu contoh berita mereka ketika meliput terkait kedatangan WAMEN HAM ke USI yang bikin banyak Mahasiswa kecewa, terutama mereka yang sudah menyiapkan kajian kajian yang seharusnya disampaikan dalam kuliah umum tersebut namun, tak diberi ruang oleh pihak kampus untuk sesi tanya jawab dan diskusi dua arah kepada Wamen HAM yang datang itu. mereka seakan tutup mata bahwa pada saat itu banyak Mahasiswa yang bersuara dan menyoraki meminta adanya sesi tanya jawab, Bahkan sampai saat wamen HAM meninggalkan pelataran auditorium itu dikejar kejar Oleh Mahasiswa dari Teknik dan Ekonomi. Selain itu mereka juga seharusnya Mempertanyakan Hal hal seperti Pembentukan Satgas PPKS di usi dan berbagai lembaga didalam kampus yang sudah seperti tidak bernyawa lagi," Terang Reynaldi, Selasa (10/6/2025).
Pada kesempatan ini Reynaldi juga menerangkan bahwa hari ini jumlah Mahasiswa yang Kritis di
USI kian berkurang karna tak ada wadah yang memfasilitasi Mahasiswa untuk Berdiskusi Membangun opini - Opini Masyarakat Kampus yang seharusnya menjadi tugas dari Majalah Kampus tersebut untuk merangsang Mahasiswa Berpikir Kritis dan peka terhadap Suasana Kampus Hari ini. Dan Reynaldi juga menyatakan sudah saatnya majalah Kampus tersebut berbenah menjadi lebih baik kedepannya.
"Kalau Kilas Balik ke belakang kita tau bahwa USI menjadi salah satu kampus yang dikenal dengan Gerakan Gerakan Mahasiswanya, dengan Insan Insan kritis nya namun hari ini sudah semakin berkurang, Karena memang pada waktu dulu Mahasiswa Selalu mendapatkan ruang entah dari mana ajah untuk membangun Opini Publik tentang situasi kampus, Isu Daerah Bahkan Sampai Isu Nasional. dan Hal seperti ini yang harusnya di lakukan oleh Mereka, menyajikan Berita yang menggambarkan situasi kampus hari ini sampai isu isu sentral dari daerah dan nasional, Sehingga Mahasiswa dapat Melihat dan Mendiskusikan lebih luas, agar budaya diskusi Mahasiswa Terjaga dan Kian memunculkan Insan Insan Kritis yang baru dikampus. Mereka seharusnya Mencoba untuk mencontoh majalah majalah kampus di Universitas Lain salah satunya Suara USU," Tutur Reynaldi sebagai penutup. (*)
Dengan berlalunya masalah demi masalah di Universitas Simalungun yang tak semuanya disiarkan oleh Majalah Kampus di Universitas Simalungun.
Ketua Komisarat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Fakultas Teknik Universitas Simalungun (USI), Reynaldi Manik, menilai bahwa Masalah seperti Ini adalah indikator kuat bahwa kurang nya peran majalah kampus dalam mewartakan tiap tiap permasalahan didalam kampus. hal ini juga kemudian memunculkan adanya tanda tanda bahwa majalah kampus terkesan tidak berani mewartakan sesuatu yang diperkirakan mengarah kepada pihak Rektorat.
"Hari ini majalah kampus tak lagi melakukan tugasnya sebagai pewarta dikampus. dari sekian banyak hal hal yang terjadi dikampus hanya sebagian kecil saja yang diliput, dan itupun liputan mereka hanya seperti liputan ecek ecek, yang kesan nya hanya satu arah dan ada indikasi menutupi sesuatu yang terjadi dibalik insiden tersebut, salah satu contoh berita mereka ketika meliput terkait kedatangan WAMEN HAM ke USI yang bikin banyak Mahasiswa kecewa, terutama mereka yang sudah menyiapkan kajian kajian yang seharusnya disampaikan dalam kuliah umum tersebut namun, tak diberi ruang oleh pihak kampus untuk sesi tanya jawab dan diskusi dua arah kepada Wamen HAM yang datang itu. mereka seakan tutup mata bahwa pada saat itu banyak Mahasiswa yang bersuara dan menyoraki meminta adanya sesi tanya jawab, Bahkan sampai saat wamen HAM meninggalkan pelataran auditorium itu dikejar kejar Oleh Mahasiswa dari Teknik dan Ekonomi. Selain itu mereka juga seharusnya Mempertanyakan Hal hal seperti Pembentukan Satgas PPKS di usi dan berbagai lembaga didalam kampus yang sudah seperti tidak bernyawa lagi," Terang Reynaldi, Selasa (10/6/2025).
Pada kesempatan ini Reynaldi juga menerangkan bahwa hari ini jumlah Mahasiswa yang Kritis di
USI kian berkurang karna tak ada wadah yang memfasilitasi Mahasiswa untuk Berdiskusi Membangun opini - Opini Masyarakat Kampus yang seharusnya menjadi tugas dari Majalah Kampus tersebut untuk merangsang Mahasiswa Berpikir Kritis dan peka terhadap Suasana Kampus Hari ini. Dan Reynaldi juga menyatakan sudah saatnya majalah Kampus tersebut berbenah menjadi lebih baik kedepannya.
"Kalau Kilas Balik ke belakang kita tau bahwa USI menjadi salah satu kampus yang dikenal dengan Gerakan Gerakan Mahasiswanya, dengan Insan Insan kritis nya namun hari ini sudah semakin berkurang, Karena memang pada waktu dulu Mahasiswa Selalu mendapatkan ruang entah dari mana ajah untuk membangun Opini Publik tentang situasi kampus, Isu Daerah Bahkan Sampai Isu Nasional. dan Hal seperti ini yang harusnya di lakukan oleh Mereka, menyajikan Berita yang menggambarkan situasi kampus hari ini sampai isu isu sentral dari daerah dan nasional, Sehingga Mahasiswa dapat Melihat dan Mendiskusikan lebih luas, agar budaya diskusi Mahasiswa Terjaga dan Kian memunculkan Insan Insan Kritis yang baru dikampus. Mereka seharusnya Mencoba untuk mencontoh majalah majalah kampus di Universitas Lain salah satunya Suara USU," Tutur Reynaldi sebagai penutup. (*)